|
Jul 04
|
Engkau beribadah kepada Allah seolah-olah engkau melihat-Nya, jika engkau tidak mampu melihat-Nya maka sesungguhnya Dia melihat engkau. (mutafaqun ‘alaih)
Rasulullah Muhammad saw, memberikan gambaran yang sederhana tentang ihsan sebagaimana bunyi hadits diatas. Konteks ibadah dalam hadits diatas memiliki arti atau maksud yang luas. Tidak spesifik hanya dalam masalah ibadah mahdhoh saja. Namun mayoritas dari kita memahami konteks ibadah dalam hadits tersebut adalah ibadah mahdhoh saja. Sebagaimana diketahui bersama bahwa ibadah mahdhoh ialah ibadah individual (habluminallah - ibadah vertikal hamba kepada Rabb-nya) yang telah diatur bentuk dan tata caranya sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasulullah Muhammad saw, seperti thaharah, shalat, puasa, zakat, qurban, haji, dan lain-lain.
Di lain waktu, beliau juga menyampaikan bahwa ibadah shalat itu adalah sarana mi’raj-nya orang mukmin (orang yang beriman). Jikalau Rasulullah Muhammad saw dimi’rajkan oleh Allah hingga di Sidratul Muntaha dengan buraq (kendaraan khusus untuk mi’raj, wallahu a’lam), maka buraq-nya orang mukmin adalah shalat.
Untuk menjadikan shalat yang dilaksanakan menjadi buraq, maka tips sederhananya adalah ber-ihsan. Dengan ber-ihsan, maka ditanamkanlah suatu keyakinan bahwa Allah SWT itu Maha Melihat (Bashorun) dan juga Maha Mendengar (Sami’un). Kuat lemahnya keyakinan yang dimiliki oleh seorang mukmin terhadap Allah SWT, maka sebanding luruslah dengan ihsan yang dialaminya. Semakin kuat yaqin-nya, maka semakin kuat pula-lah rasa ihsan-nya. Dan sebaliknya semakin lemah yaqin-nya, maka semakin lemah pula-lah rasa ihsan-nya.
Dari rasa ihsan tersebut maka akan memunculkan suatu sikap ibadah shalat. Sikap ibadah shalat orang yang ber-ihsan akan tercermin sebagaimana berikut ; tindakannya tidak tergesa-gesa yakni menata hati dan fisiknya sehingga akan memunculkan perilaku yang patuh dan santun. Perilaku patuh dan santun dalam ibadah terbiaskan dalam sikap yang tuma’ninah di setiap perpindahan gerak-gerik shalatnya. Hingga akhirnya muncullah sikap tawadhu (rendah hati) di setiap perilaku dalam kehidupan sehari-harinya.
Semoga Allah SWT menambahkan yaqin yang sudah ada dalam diri kita, agar bertambah lagi yaqin-nya. Sehingga dengan yaqin yang ditambahkan lagi itu, Allah SWT menganugerahkan juga rasa ihsan, yang akhirnya juga menganugerahkan tawadhu ke dalam diri kita. Amin.
Abu Husain
Komentar Terbaru