|
Jun
18
|
Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuban kami), kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)”. (Al A’raf: 172)
Jasad manusia diciptakan Allah dari unsur saripati tanah. Semua manusia mempunyai bahan yang sama. Sehingga akan memiliki ciri-ciri atau sifat-sifat yang sama pula. Ciri-ciri atau sifat-sifat inilah yang akan bernilai universal.
Kata “universal” biasanya diartikan sebagai suatu hal yang sama rasa dialami oleh siapa atau apa saja, artinya siapa atau apapun itu memiliki dasar (esensi) yang sama dalam fithrahnya. Kondisi fithrah (manusia) ini biasanya masih kentara dimiliki oleh seorang anak bayi. Terbayang jika beberapa anak bayi dipertemukan. Meskipun anak-anak bayi tersebut berbeda ras, orang tua, suku, bangsa, daerah asal, tetapi terlihat bahwa mereka memiliki satu kesamaan. Satu hal yang bisa memancing rasa sayang dari orang-orang yang melihatnya.
Pada kondisi itulah juga terlihat bahwa anak-anak bayi tersebut belum mengenal apa arti baik-buruk, benar-salah, pahala-dosa. Pengertian baik-buruk, benar-salah, dan pahala-dosa akan muncul seiring dengan pertumbuhan jiwanya (nafsu-nya). Itulah makanya Rasulullah Muhammad saw, menyatakan dalam hadits-nya bahwa seorang anak bayi itu terlahirkan suci (fithrah) di dunia ini seperti selembar kertas putih, hanya orang tuanyalah (termasuk pendidikan dan lingkungan sekitarnya) yang akan membentuk anak bayi nanti menjadi seorang majusi, yahudi atau nasrani.
Kondisi yang tidak terombang-ambing dalam dualitas (baik-buruk, benar-salah, pahala-dosa, dll) ini adalah kondisi universal yang dialami oleh seorang bayi. Sebagai orang dewasa, kita harus berusaha untuk selalu memperbaiki diri, membersihkan jiwa kita agar bisa masuk kembali kedalam kondisi universal sebagai mana dulu pernah kita alami semasa masih menjadi bayi. Cara termudah yang diperkenalkan oleh Allah adalah berserah diri (ber-islam).
Marilah kita berserah diri. Berserah diri kepada Allah SWT, Dzat Yang Menciptakan alam semesta dan isinya. Dzat Yang Mengatur-nya, termasuk mengatur diri kita, hidup kita. Mari kita ber-ISLAM……
Batam, 18 Juni 2008
Abu Husain
Komentar Terbaru