Bayi Universal A Pow
Jun 19

Peliharalah semua shalat(mu), dan (peliharalah) shalat wusthaa. Berdirilah untuk Allah (dalam shalatmu) dengan khusyu’. Jika kamu dalam keadaan takut (bahaya), maka shalatlah sambil berjalan atau berkendaraan. Kemudian apabila kamu telah aman, maka sebutlah Allah (shalatlah), sebagaimana Allah telah mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui. (Al Baqarah: 238 – 239)

Membulatkan sepenuh jiwa untuk beribadah kepada Allah SWT, mutlak diperlukan dalam shalat. Bentuk pembulatan jiwa dalam berserah diri tersebut tercermin dalam laku berdiri. Dalam beberapa kasus, diperbolehkan untuk duduk atau berbaring. Masing-masing tindakan tadi (berdiri, duduk ataupun berbaring) dalam shalat harus disertai kebulatan jiwa pelakunya untuk berserah diri.

Kebulatan jiwa akan mengendapkan ke-ego-an yang ada di dalam diri kita. Ke-ego-an yang terkadang membawa diri kita kepada kondisi fujur. Kondisi tercela yang berujung kepada penyesalan, kekecewaan, resah dan gelisah. Tidak semua ke-ego-an itu harus dibuang atau dihilangkan, karena kita akan hilang kemanusiaanya ketika ke-ego-annya dihilangkan atau dibuang. Biarlah ke-ego-an yang mengarah kepada taqwa menjadi dominan di dalam diri kita, sementara ke-ego-an yang mengarah kepada fujur menjadi lemah dan mengendap dalam diri kita.

Coba lakukan dengan pelan dan kesadaran penuh ketika berdiri di dalam shalat. Sadari bahwa diri yang sedang berdiri, menyerahkan atau memasrahkan jiwanya secara bulat penuh kepada Dzat Yang Menciptakan alam semesta seisinya. Maka Allah akan memberikan kedamaian, ke-ego-an diri akan menjadi tenang tidak bergejolak yang akan senantiasa mengarah kepada taqwa.

Demikian sederhananya Allah menambahkan iman di atas iman yang sudah ada di dalam diri manusia. Manusia hanya disuruh berserah diri, PASRAH.

Abu Husain

written by admin


Leave a Reply