<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	>

<channel>
	<title>The Spiritual Courtesy</title>
	<atom:link href="http://blog.scbatam.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://blog.scbatam.com</link>
	<description>A Blog of Shalat Center Batam</description>
	<pubDate>Sat, 09 May 2009 15:38:46 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.7.1</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Memahami Allah</title>
		<link>http://blog.scbatam.com/memahami-allah/</link>
		<comments>http://blog.scbatam.com/memahami-allah/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 20 Aug 2008 13:21:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.scbatam.com/?p=19</guid>
		<description><![CDATA[Para ilmuwan laboratoriumnya di luar diri, modalnya berfikir. Para pejalan laboratoriumnya di dalam diri, modalnya berkeyakinan.
Sama - sama mencari kemantapan rahasia hidup&#8230; Siapakah yang cepat sampai ?
Abad 21 adalah titik klimaks sebuah pencarian manusia terhadap Tuhanya. Di belahan bumi India para maha guru spiritual menganggap abad ini adalah ttitk ordinat peredaran simetris terbaik antara jagad [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Para ilmuwan laboratoriumnya di luar diri, modalnya berfikir. Para pejalan laboratoriumnya di dalam diri, modalnya berkeyakinan.</p>
<p>Sama - sama mencari kemantapan rahasia hidup&#8230; Siapakah yang cepat sampai ?</p>
<p>Abad 21 adalah titik klimaks sebuah pencarian manusia terhadap Tuhanya. Di belahan bumi India para maha guru spiritual menganggap abad ini adalah ttitk ordinat peredaran simetris terbaik antara jagad mikrokosmos dengan makrokosmos sehingga orang akan mudah belajar mengenai ketuhanan.. Di belahan barat para intelektual kebingungan mencari titik perhentian karir, titik Tuhan, God spot. Para spirilogic mengkotak - kotakkan IQ, EQ dan SQ kemudian menganggapnya sebagai sebuah temuan besar yang harus dipatentkan guna sebuah urusan professional alias imperium perut.</p>
<p>Tak ketinggalan para pecinta dunia berusaha meluruskan konsep bisnisnya dengan Spiritual Capital. Psikolog tak kalah anehnya menyederhanakan puluhan teori usang menjadi sebuah teori flow, pasrah mengalir sajalah agar mampu mencapai authentic happiness.</p>
<p>Bagaimana dengan dunia Islam, khususnya di Indonesia ? tentu tak kalah unik&#8230;</p>
<p>Terkadang akhir -akhir ini saya merasa agak geli ketika melihat buku-buku baru atau hot topic di internet kok semua bahasan mengenai kebenaran Allah harus dilegalisasi dulu oleh ilmu pengetahuan moden, entah itu fisika, kimia , biologi, kedokteran dan semacamnya. Seakan-akan walau memperoleh manfaat sebab dari bertaqarub dengan Allah tetapi dilain hal nggak ilmiah, maka kita akan tertolak, sesat.</p>
<p>Sebuah pertanyaan ke dalam diri, sejak kapan sih seorang muslim harus menunggu legalisasi logis formal untuk memperoleh spiritual journey sebuah ayat ? Apakah hanya karena sebuah alasan modernitas ilmiah maka kita harus mengalahkan keyakinan akan manfaat sebuah perjalanan ? Padahal sejauh dan secanggih saat ini, kalau sudah sudah membahas sebuah agama, ilmu pengetahuan hanya bisa berputar -putar di wilayah hipotesa, tesis, disertasi dan rumusan -rumusan tanpa bisa lebih jauh masuk menjadikannya sebuah inti perjalanan.</p>
<p>Sebagai contoh seorang Einstein atau Stephen Hawking dan kawan-kawan seprofesi bisa saja merumuskan hukum melipat waktu, konsep black hole, big bang ataupun teori kecepatan cahaya dan semua itu memang relatif berbanding benar dengan ayat Quran. Tetapi tanpa mengurangi rasa hormat, apakah beliau-beliau ini bisa mengalami, mengaktifkan dan menjalankannya ? Apakah beliau seorang pejalan atau masih terhenti sebatas pemikir ? Padahal di kalangan pejalan spiritual muslim yang banyak bertebaran di Malang pinggiran, Jember, banyuwangi, dan banyak ttik lagi di penjuru Nusantara hal itu sudah menjadi realitas perjalanan.</p>
<p>Dan tentu saja Rasulullah Muhammad adalah panglima pelipat waktu, pengajar sejati metode perjalanan kecepatan cahaya ini dengan pembuktian peristiwa Isra Mi&#8217;raj. Dan dalam hal ini Abubakar yang terkenal cerdas dan sidiq langsung mengiyakan tanpa banyak riset.</p>
<p>Inilah yang dinamakan konsep iman. Percaya dan akhirnya harus mengalami sendiri.</p>
<p>Anehnya kalau kejadian semacam ini sebenarnya tetap ada dan saya ungkapkan seperti sekarang, mungkin orang yang terbiasa kritis dan sangat ilmiah malah menarik mundur jam waktu, menyetel mindset seperti pendeta menghadapi Galileo, menyelidiki siapa penulis penyebar berita awu -awu ini.. Ah itu sihir&#8230;jin beserta kemampuan tehnologinya &#8230;Kita berbalik 180 derajat menjadi penuduh yang tercerabut dari tradisi ilmiah dan keakhlakan.</p>
<p>Pertanyaan dasar, bagaimana mungkin jin bisa secanggih itu padahal menurut Islam hanya manusia saja mahluk yang berakal. Lalu bagaimana mungkin sihir wong modalnya cuma baca La ilaha ilallah dan La haula walaquwwata ila billah plus puasa sunnah. Sebuah penyerahan full dan berlindung di dalam benteng Allah masak jin bisa masuk sih ?</p>
<p>Sebegitu lemahkah benteng Allah untuk ditembus ? masak safety nya kalah sama benteng Pentagon ? Padahal para dukun KGB nya Soviet atau spiritual manapun dengan kekuatan bantuan bolo kurowo jin gendruwo ndhas klunthung saja nggak mampu mencuri data di Pentagon. Belum lagi kalau saya ungkapkan ada banyak orang yang mampu menjalankan proses materialisasi, menciptakan benda dengan perantara partikel udara seperti teori - teori ilmiah hanya bermodal meyakini komposisi ayat kun fayakun dan La haula walaquwwata ila billah yang dihunjamkan sampai akar keyakinan terdalam.</p>
<p>Begitu sederhananya aplikasi teori ayat ini sehingga kita yang hidup di jaman modern menolaknya karena tidak mengandung kemewahan konsep, entah itu konsep fisika, biologi ataupun hukum fiqih. Padahal saat ini seorang anak bangsa, Professor Johanes Surya dengan pasukan fisikawan muda yang merajai olympiade fisika tingkat dunia malah bercita-cita menggunakan fisika tanpa rumus. Semua rumus digantikan dengan prinsip dasar MESTAKUNG alias semesta mendukung. Penjelasan sederhananya, bahwa ketika sesuatu dalam keadaan terdesak maka seluruh partikel alam raya akan mendukung dan menolongnya.</p>
<p>Hebat benar beliau. Bangunan pikiran yang begitu eksak menjadi non eksak. Sebab sebenarnya non eksak hanyalah sebuah bangunan eksak dengan parameter tak terhingga sehingga orang sulit membuat rumusan pasti. Bagi saya beliau sangat Islami sekali walaupun entah KTP nya beragama apa.</p>
<p>Dan, sebenarnya konsep puasa dibarengi berniat kalimat tauhid adalah konsep mestakung sejati yang telah diajarkan Rasul belasan abad yang lalu. Ketika seseorang melakukan puasa, otomatis bangunan konsep material dalam dirinya perlahan mulai tampak melemah. Pertama tenaga fisik yang gemagah mulai berkurang, kemudian otak yang katanya cerdaspun menurun gelombang frekwensinya. Kewaspadaan terhadap dunia luar mulai berkurang namun kewaspadaan ke dalam diri semakin bertambah tingkat kekonsentrasiannya.</p>
<p>Lambat laun hanya dengan sebuah proses latihan mengikhlaskan sebuah pengakuan bahwa kita benar -benar nggak punya kekuatan, Blesss&#8230;semesta mendukung apa yang kita maui&#8230;tiba - tiba kesuperpoweran diri terkuak, semua seperti mimpi yang terkendali penuh dengan kekuatan lintas dimensi, entah dimensi benda, dimensi akal, dimensi ruang ataupun dimensi waktu&#8230;.semua ada dan dapat kita gunakan&#8230;kata pedagang Padang, dipilih&#8230;dipilih&#8230;dipilih&#8230;tinggal pilih&#8230;tinggal pilih&#8230;tinggal pilih&#8230;.Semua adalah imajinasi yang mewujud mengikuti Kehendak. Kun fayakun&#8230;</p>
<p>Tapi ini adalah sebuah perjalanan yang masih bersifat Isra&#8217; yang harus diteruskan menuju perjalanan Mi&#8217;raj. Sebab banyak sekali orang yang mengalami pembebasan konsep diri melalui ke Isra&#8217; an ini lalu menganggap sebagai puncak pencapaian karena memang di sinilah digelar dengan nyata senyata-nyatanya segala kemampuan sang masterpiece, menungso !.</p>
<p>Perjalanan Isra adalah konsep perjalanan horizontal yang kita sebut hablumminannas dimana semua pencapaiannya masih bersifat kebutuhan dunia itu sendiri entah yang terwujud dalam ilmu ekonomi, politik, budaya, pengobatan, hukum fiqih, fisika biologi, olah raga bahkan kebatinan yang sering dianggap orang sebagai ilmu kegaiban langit.</p>
<p>Dan pada kenyataannya semua ilmu itu memang hanya berlaku dan berguna selama nafas masih di kandung badan, urusan hablumminannas. Sebab setelah kehidupan dunia ini usia yang berlaku hanyalah urusan Mi&#8217;raj. Ruh yang kembali, jiwa yang tenang.</p>
<p>Benar adanya bahwa nanti yang dipertimbangkan terlebih dahulu amal seseorang adalah kebenaran sholatnya, bukan modal kapital, keringat atau akal karena ketiganya harus balik maning ke bumi untuk dimanfaatkan generasi selanjutnya. Untuk itulah kemudian diperlukan konsep Mi&#8217;raj.</p>
<p>Lalu bagaimana konsep Mi&#8217;raj itu sendiri ? Mi&#8217;raj adalah kumpulan ingatan kepada Allah yang di rangkum dalam ibadah sholat. sholat itu Mi&#8217;raj nya orang mukmin&#8230;begitu kata Rasul. Lebih begitu sederhananya lagi konsep ini sehingga orang yang berada di wilayah Isra&#8217; pun terkadang malah tak percaya sebab orang sudah kadung terbiasa dengan alam yang aneh-aneh dan menara gading pikiran.</p>
<p>Konsep Mi&#8217;raj sangatlah mudah&#8230; Ingatlah, ya, cuma mengingat&#8230;..mengingat tidak ada rumusannya selain mengurut kejadian ke belakang, bukan malah menebak ke depan&#8230;hanya dengan MENGINGAT Allah-lah hati menjadi tenteram ( RA&#8217;D :29 ). Jadi parameter orang yang ingat pernah bertemu Allah ya sederhana saja, jiwanya selalu tenang walau menghadapi berbagai persoalan hidup</p>
<p>Tapi bagaimana mau ingat wong ketemu aja nggak pernah ? Contoh semisal, saya ingat kalau putri Diana adalah teman saya waktu kecil sebab memang dulu pernah bertemu akrab bahkan selalu mengendarai kuda bersama. Lha kalau waktu kecil nggak pernah ketemu, apanya yang harus diingat ? masak saya harus ngaku-ngaku dan pura -pura ingat bahwa dulu pernah akrab dan selalu bertemu di Istana.</p>
<p>Untungnya Allah begitu mahfum bahwa daya ingat otak kita yang pandai ini ternyata masih sangat cekak. Untuk itu dengan murahnya Allah menjelaskan bahwa sebenarnya kita pernah berhadapan langsung &#8221; Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): &#8220;Bukankah Aku ini Tuhanmu?&#8221; Mereka menjawab: &#8220;Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi&#8221;. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengata-kan: &#8220;Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keEsaan Tuhan)&#8221; ( Al A&#8217;raf 172 ).</p>
<p>Maka ber Mi&#8217;raj lah dengan membahas dan memahami Allah dengan cara yang sangat sederhana yaitu mengingat-ingat - merunut kebelakang mencari asal muasal kejadian diri dengan metode Berdzikir. Masalah saya dan anda hanya bisa mengingat sebatas NamaNya, SifatNya, IlmuNya, atau CiptaanNya saja ya nggak masalah. Allah maha Memahami kok.</p>
<p>Selama berniat yakin bisa berjumpa dengan Allah, nanti lama-lama keyakinan itulah yang membimbing pada tujuan akhir dengan sebuah proses yang unik tak terduga.. Pun seandainya kita sudah bisa menyaksikan Dzatnya sebagai konsekuensi kelanjutan ada nama pasti ada yang dinamai , lebih baik disimpan saja sebagai kenangan terindah sebab kalau diomongkan nggak akan pernah ketemu, malah - malah hilang nikmatnya plus berakhir hanya sekedar jadi fitnah dan kehebohan yang tak bermakna.</p>
<p>Biarkan ban luar tetap berada diluar, ban dalam tetap di dalam dengan penuh angin agar roda kehidupan tetap berputar dengan baik.</p>
<p>Wassalam, Semoga bermanfaat</p>
<p>Dody Ide</p>
<p>(http://padhangjingglang.blogspot.com)<br />
<em><br />
Proses Isra lebih dari tujuh samudra tinta tertulis<br />
Poses Mi&#8217;raj lebih dari tujuh samudra tinta terhapus<br />
Ketika tiada yang tertulis maka tak ada yang terbaca<br />
Maka muncullah sang ummi yang bersyahadat di sudut keheningan&#8230;.</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.scbatam.com/memahami-allah/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Yaqin</title>
		<link>http://blog.scbatam.com/yaqin/</link>
		<comments>http://blog.scbatam.com/yaqin/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 04 Jul 2008 15:29:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.scbatam.com/?p=15</guid>
		<description><![CDATA[Engkau beribadah kepada Allah seolah-olah engkau melihat-Nya, jika engkau tidak mampu melihat-Nya maka sesungguhnya Dia melihat engkau. (mutafaqun &#8216;alaih)
Rasulullah Muhammad saw, memberikan gambaran yang sederhana tentang ihsan sebagaimana bunyi hadits diatas. Konteks ibadah dalam hadits diatas memiliki arti atau maksud yang luas. Tidak spesifik hanya dalam masalah ibadah mahdhoh saja. Namun mayoritas dari kita memahami [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Engkau beribadah kepada Allah seolah-olah engkau melihat-Nya, jika engkau tidak mampu melihat-Nya maka sesungguhnya Dia melihat engkau.</em> (mutafaqun &#8216;alaih)</p>
<p>Rasulullah Muhammad saw, memberikan gambaran yang sederhana tentang ihsan sebagaimana bunyi hadits diatas. Konteks ibadah dalam hadits diatas memiliki arti atau maksud yang luas. Tidak spesifik hanya dalam masalah ibadah mahdhoh saja. Namun mayoritas dari kita memahami konteks ibadah dalam hadits tersebut adalah ibadah mahdhoh saja. Sebagaimana diketahui bersama bahwa ibadah mahdhoh ialah ibadah individual (habluminallah - ibadah vertikal hamba kepada Rabb-nya) yang telah diatur bentuk dan tata caranya sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasulullah Muhammad saw, seperti thaharah, shalat, puasa, zakat, qurban, haji, dan lain-lain.</p>
<p>Di lain waktu, beliau juga menyampaikan bahwa ibadah shalat itu adalah sarana mi&#8217;raj-nya orang mukmin (orang yang beriman). Jikalau Rasulullah Muhammad saw dimi&#8217;rajkan oleh Allah hingga di Sidratul Muntaha dengan buraq (kendaraan khusus untuk mi&#8217;raj, wallahu a&#8217;lam), maka buraq-nya orang mukmin adalah shalat.</p>
<p>Untuk menjadikan shalat yang dilaksanakan menjadi buraq, maka tips sederhananya adalah ber-ihsan. Dengan ber-ihsan, maka ditanamkanlah suatu keyakinan bahwa Allah SWT itu Maha Melihat (Bashorun) dan juga Maha Mendengar (Sami&#8217;un). Kuat lemahnya keyakinan yang dimiliki oleh seorang mukmin terhadap Allah SWT, maka sebanding luruslah dengan ihsan yang dialaminya. Semakin kuat yaqin-nya, maka semakin kuat pula-lah rasa ihsan-nya. Dan sebaliknya semakin lemah yaqin-nya, maka semakin lemah pula-lah rasa ihsan-nya.</p>
<p>Dari rasa ihsan tersebut maka akan memunculkan suatu sikap ibadah shalat. Sikap ibadah shalat orang yang ber-ihsan akan tercermin sebagaimana berikut ; tindakannya tidak tergesa-gesa yakni menata hati dan fisiknya sehingga akan memunculkan perilaku yang patuh dan santun. Perilaku patuh dan santun dalam ibadah terbiaskan dalam sikap yang tuma&#8217;ninah di setiap perpindahan gerak-gerik shalatnya. Hingga akhirnya muncullah sikap tawadhu (rendah hati) di setiap perilaku dalam kehidupan sehari-harinya.</p>
<p>Semoga Allah SWT menambahkan yaqin yang sudah ada dalam diri kita, agar bertambah lagi yaqin-nya. Sehingga dengan yaqin yang ditambahkan lagi itu, Allah SWT menganugerahkan juga rasa ihsan, yang akhirnya juga menganugerahkan tawadhu ke dalam diri kita. Amin.</p>
<p>Abu Husain</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.scbatam.com/yaqin/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>A Pow</title>
		<link>http://blog.scbatam.com/a-pow/</link>
		<comments>http://blog.scbatam.com/a-pow/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 20 Jun 2008 09:40:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.scbatam.com/?p=13</guid>
		<description><![CDATA[Ada beberapa pesan menarik dari hasil menonton film animasi yang diproduksi oleh Walt Disney yang terbaru, yaitu &#8220;Kungfu Panda&#8221;. Dimana beberapa pesan menarik itu, diantaranya yang disampaikan oleh Oguwei (sang grandmaster kura-kura).
Ketika pemilihan pendekar naga dilakukan, ada suatu kejadian yang tidak disengaja oleh A Pow (si panda) yang sebenarnya tidak bisa kungfu dan hanya ingin [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ada beberapa pesan menarik dari hasil menonton film animasi yang diproduksi oleh Walt Disney yang terbaru, yaitu &#8220;Kungfu Panda&#8221;. Dimana beberapa pesan menarik itu, diantaranya yang disampaikan oleh Oguwei (sang grandmaster kura-kura).</p>
<p>Ketika pemilihan pendekar naga dilakukan, ada suatu kejadian yang tidak disengaja oleh A Pow (si panda) yang sebenarnya tidak bisa kungfu dan hanya ingin menonton saja. Hingga akhirnya A Pow justeru ditunjuk oleh Oguwei sebagai calon pendekar naga. Keputusan ini mendapat protes keras oleh master Tikus, karena sebagai guru besar dia melihat bahwa A Pow tidak memiliki potensi atau bekal sebagai calon pendekar naga. Sehingga master Tikus berpendapat bahwa penunjukan itu terjadi sebagai sebuah kecelakaan atau kebetulan.</p>
<p>Oguwei tetap dengan keputusannya, karena dia berpendapat bahwa &#8220;tidak ada sebuah kecelakaan atau kebetulan&#8221; yang senantiasa ada adalah &#8220;suatu skenario yang ditetapkan&#8221;. Akhirnya A Pow diterima dalam perguruan tersebut untuk kemudian dipersiapkan untuk menjadi pendekar naga. Master Tikus dengan setengah hati mengajarkan dasar-dasar kungfu kepada A Pow, tetapi karena memang A Pow tidak memiliki dasar atau bekal yang kuat maka hanya kekecewaan yang diterima master Tikus. Master Tikus mengadu kepada Oguwei tentang hal tersebut, dan Oguwei kemudian menasehatinya bahwa master Tikus tidak perlu memikirkan kekurangan-kekurangan A Pow. Grandmaster Oguwei justeru menekankan kepada master Tikus kepada satu hal saja, yaitu &#8220;rasa percaya/yakin&#8221; bahwa A Pow adalah sosok yang memang betul telah ditunjuk untuk menjadi pendekar naga.</p>
<p>Akhirnya master Tikus menanamkan &#8220;rasa percaya/yakin&#8221; tentang A Pow, dan justeru kemudian dia menemukan cara mengajar A Pow dengan tepat. Sehingga akhirnya A Pow betul-betul bisa menguasai kungfu dengan kuat dan bagus. Setelah berhasil lulus, kemudian A Pow diberi &#8220;lembar naga&#8221; yang berisi rahasia pendekar naga. Jadi hanya pendekar naga saja yang boleh melihat dan mengetahui isinya. Namun setelah dibuka, ternyata lebar itu kosong, tidak ada tulisan atau gambar apa pun. Dalam kebingungannya, kemudian datang informasi bahwa musuh mereka yang bernama Tailong (si harimau ganas) telah datang.</p>
<p>Kemudian master Tikus menyuruh A Pow untuk mengungsi bersama-sama penduduk sekitarnya. A Pow kembali ke rumahnya dan bersama ayah angkatnya (si Angsa) hendak pergi mengungsi. Pada saat-saat itu, A Pow seperti berat meninggalkan rumahnya. Kemudian ayah angkatnya membuka rahasia resep masakan mie-nya. Kenapa warung mie-nya sangat laris. Ternyata rahasia resep masakannya adalah &#8220;tidak ada rahasia&#8221;. Artinya resepnya adalah biasa saja, tetapi ada suatu &#8220;rasa percaya/yakin&#8221; dalam dirinya yang mengantarkan dirinya untuk membuat suatu hal yang terbaik bagi tanggung jawabnya. Nah &#8220;rasa percaya/yakin&#8221; inilah yang justeru menyebabkan masakan mie-nya menjadi sangat enak dan digemari, sehingga warung mie-nya sangat ramai.</p>
<p>A Pow kemudian menjadi sadar bahwa lembar naga yang kosong itu adalah untuk mengatakan bahwa dirinya yang apa adanya mempunyai potensi yang luar biasa. Jika &#8220;rasa percaya/yakin&#8221; dalam dirinya dipersembahkan bagi kebaikan dan kemaslahatan sesama makhluk. Akhirnya dengan &#8220;rasa percaya/yakin&#8221; ini tadi maka A Pow berhasil mengalahkan Tailong dan membawa kedamaian bagi daerah dimana dia tinggal. Akhir kata A Pow menjadi Grandmaster menggantikan Oguwei yang telah lebih dulu &#8220;moksa&#8221;.</p>
<p>Demikian cerita singkat dari A Pow, mungkin tidak sejelas dan sedetail film aslinya. Tetapi memang ada beberapa point yang bisa diambil pelajarannya. Bahwa seluruh kejadian di dunia ini tidak ada yang &#8220;kebetulan&#8221;, seluruhnya direncanakan oleh Sang Maha Perencana. Juga bahwa pertimbangan-pertimbangan akal pikiran kita, kadangkala justeru sangat mengganggu jalan hidup kita. Maka yang diperlukan hanyalah &#8220;rasa percaya/yakin&#8221; atau dalam bahasa lain adalah &#8220;iman&#8221;. Tidak ada suatu rahasia khusus bagi sebuah kesuksesan, yang ada sebetulnya adalah &#8220;iman&#8221; saja.</p>
<p>Demikian sedikit pesan-pesan yang bisa diperoleh oleh saya dari cerita A Pow tersebut. Semoga bermanfaat.</p>
<p>Abu Husain</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.scbatam.com/a-pow/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Berdiri, Duduk atau Berbaring</title>
		<link>http://blog.scbatam.com/berdiri-duduk-atau-berbaring/</link>
		<comments>http://blog.scbatam.com/berdiri-duduk-atau-berbaring/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 19 Jun 2008 10:05:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.scbatam.com/?p=10</guid>
		<description><![CDATA[Peliharalah semua shalat(mu), dan (peliharalah) shalat wusthaa. Berdirilah untuk Allah (dalam shalatmu) dengan khusyu&#8217;. Jika kamu dalam keadaan takut (bahaya), maka shalatlah sambil berjalan atau berkendaraan. Kemudian apabila kamu telah aman, maka sebutlah Allah (shalatlah), sebagaimana Allah telah mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui. (Al Baqarah: 238 – 239)
Membulatkan sepenuh jiwa untuk beribadah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Peliharalah semua shalat(mu), dan (peliharalah) shalat wusthaa. Berdirilah untuk Allah (dalam shalatmu) dengan khusyu&#8217;. Jika kamu dalam keadaan takut (bahaya), maka shalatlah sambil berjalan atau berkendaraan. Kemudian apabila kamu telah aman, maka sebutlah Allah (shalatlah), sebagaimana Allah telah mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui.</em> (Al Baqarah: 238 – 239)</p>
<p>Membulatkan sepenuh jiwa untuk beribadah kepada Allah SWT, mutlak diperlukan dalam shalat. Bentuk pembulatan jiwa dalam berserah diri tersebut tercermin dalam laku berdiri. Dalam beberapa kasus, diperbolehkan untuk duduk atau berbaring. Masing-masing tindakan tadi (berdiri, duduk ataupun berbaring) dalam shalat harus disertai kebulatan jiwa pelakunya untuk berserah diri.</p>
<p>Kebulatan jiwa akan mengendapkan ke-ego-an yang ada di dalam diri kita. Ke-ego-an yang terkadang membawa diri kita kepada kondisi fujur. Kondisi tercela yang berujung kepada penyesalan, kekecewaan, resah dan gelisah. Tidak semua ke-ego-an itu harus dibuang atau dihilangkan, karena kita akan hilang kemanusiaanya ketika ke-ego-annya dihilangkan atau dibuang. Biarlah ke-ego-an yang mengarah kepada taqwa menjadi dominan di dalam diri kita, sementara ke-ego-an yang mengarah kepada fujur menjadi lemah dan mengendap dalam diri kita.</p>
<p>Coba lakukan dengan pelan dan kesadaran penuh ketika berdiri di dalam shalat. Sadari bahwa diri yang sedang berdiri, menyerahkan atau memasrahkan jiwanya secara bulat penuh kepada Dzat Yang Menciptakan alam semesta seisinya. Maka Allah akan memberikan kedamaian, ke-ego-an diri akan menjadi tenang tidak bergejolak yang akan senantiasa mengarah kepada taqwa.</p>
<p>Demikian sederhananya Allah menambahkan iman di atas iman yang sudah ada di dalam diri manusia. Manusia hanya disuruh berserah diri, PASRAH.</p>
<p>Abu Husain</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.scbatam.com/berdiri-duduk-atau-berbaring/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Bayi Universal</title>
		<link>http://blog.scbatam.com/bayi-universal/</link>
		<comments>http://blog.scbatam.com/bayi-universal/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 18 Jun 2008 14:37:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.scbatam.com/?p=6</guid>
		<description><![CDATA[Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): &#8220;Bukankah Aku ini Tuhanmu?&#8221; Mereka menjawab: &#8220;Betul (Engkau Tuban kami), kami menjadi saksi&#8221;. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: &#8220;Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): &#8220;Bukankah Aku ini Tuhanmu?&#8221; Mereka menjawab: &#8220;Betul (Engkau Tuban kami), kami menjadi saksi&#8221;. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: &#8220;Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)&#8221;.</em> (Al A&#8217;raf: 172)</p>
<p>Jasad manusia diciptakan Allah dari unsur saripati tanah. Semua manusia mempunyai bahan yang sama. Sehingga akan memiliki ciri-ciri atau sifat-sifat yang sama pula. Ciri-ciri atau sifat-sifat inilah yang akan bernilai universal.</p>
<p>Kata &#8220;universal&#8221; biasanya diartikan sebagai suatu hal yang sama rasa dialami oleh siapa atau apa saja, artinya siapa atau apapun itu memiliki dasar (esensi) yang sama dalam fithrahnya. Kondisi fithrah (manusia) ini biasanya masih kentara dimiliki oleh seorang anak bayi. Terbayang jika beberapa anak bayi dipertemukan. Meskipun anak-anak bayi tersebut berbeda ras, orang tua, suku, bangsa, daerah asal, tetapi terlihat bahwa mereka memiliki satu kesamaan. Satu hal yang bisa memancing rasa sayang dari orang-orang yang melihatnya.</p>
<p>Pada kondisi itulah juga terlihat bahwa anak-anak bayi tersebut belum mengenal apa arti baik-buruk, benar-salah, pahala-dosa. Pengertian baik-buruk, benar-salah, dan pahala-dosa akan muncul seiring dengan pertumbuhan jiwanya (nafsu-nya). Itulah makanya Rasulullah Muhammad saw, menyatakan dalam hadits-nya bahwa seorang anak bayi itu terlahirkan suci (fithrah) di dunia ini seperti selembar kertas putih, hanya orang tuanyalah (termasuk pendidikan dan lingkungan sekitarnya) yang akan membentuk anak bayi nanti menjadi seorang majusi, yahudi atau nasrani.</p>
<p>Kondisi yang tidak terombang-ambing dalam dualitas (baik-buruk, benar-salah, pahala-dosa, dll) ini adalah kondisi universal yang dialami oleh seorang bayi. Sebagai orang dewasa, kita harus berusaha untuk selalu memperbaiki diri, membersihkan jiwa kita agar bisa masuk kembali kedalam kondisi universal sebagai mana dulu pernah kita alami semasa masih menjadi bayi. Cara termudah yang diperkenalkan oleh Allah adalah berserah diri (ber-islam).</p>
<p>Marilah kita berserah diri. Berserah diri kepada Allah SWT, Dzat Yang Menciptakan alam semesta dan isinya. Dzat Yang Mengatur-nya, termasuk mengatur diri kita, hidup kita. Mari kita ber-ISLAM……</p>
<p>Batam, 18 Juni 2008<br />
Abu Husain</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.scbatam.com/bayi-universal/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Don&#8217;t Judge A Book From Its Cover</title>
		<link>http://blog.scbatam.com/dont-judge-a-book-from-its-cover/</link>
		<comments>http://blog.scbatam.com/dont-judge-a-book-from-its-cover/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 10 Jun 2008 11:19:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.scbatam.com/?p=3</guid>
		<description><![CDATA[Ketika kita menilai sesuatu itu dengan ukuran kita sendiri, dan katakanlah menurut kesimpulan kita, sesuatu itu jelek atau mengarah pada suatu kejelekan, sering sekali kita mesti ekstra berhati-hati dalam mengungkapkannya, entah itu karena bisa jadi apa yang kita nilai itu tidak lah merupakan suatu kesimpulan yang benar atas apa yang kita nilai itu, atau karena [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ketika kita menilai sesuatu itu dengan ukuran kita sendiri, dan katakanlah menurut kesimpulan kita, sesuatu itu jelek atau mengarah pada suatu kejelekan, sering sekali kita mesti ekstra berhati-hati dalam mengungkapkannya, entah itu karena bisa jadi apa yang kita nilai itu tidak lah merupakan suatu kesimpulan yang benar atas apa yang kita nilai itu, atau karena ukuran kita sendiri itu yang memang berdasarkan suatu standard yang sesungguhnya tidak pas. Mungkin inilah yang menjadi dasar suatu ujaran yang mengatakan,&#8221; <em>Don&#8217;t judge a book from its cover</em>&#8220;, atau janganlah menilai sebuah buku dari sampulnya.</p>
<p>Bukannya tidak mungkin penilaian kita atas sesuatu itu benar, bisa jadi benar bahkan, bisa jadi 100%, 1000% benar, namun, masalahnya, jika kita tidak bisa memelihara netralitas kita, menemukan waktu dan cara yang tepat dalam menyampaikan hasil penilaian itu, bukannya suatu kebaikan dan perbaikan yang ada, malah akan terjadi suatu pukulan balik yang tidak perlu alias kerepotan akan malah berbalik pada diri anda-kita, untuk menetralisir pandangan negatif orang lain atas penilaian kita, yang sangat bisa jadi dengan gampangnya bisa diarahkan pada sentimen pribadi atau pandang subjektif. Akibatnya lalu, bisa saja kita marah, benci, dst dst, dan lalu malah bisa jadi timbul pikiran-pikiran negatif yang sebetulnya merusak diri anda sendiri, meracuni pola pemikiran anda dan lalu menjadikan anda itu pribadi yang kurang sehat, sakti dan sangat mungkin anda bisa jadi mengalami banyak sekali masalah sebagai runutan dari urusan penilaian itu.</p>
<p>Bagi para penekun spiritual, urusan nilai-menilai ini, kadang bisa menjadi urusan yang sangat sensitif dan berbahaya, mengapa, ya, urusan yang dibahas di dunia spiritual itu sering sekali tidak kasat mata dan tidak berbukti yang otentik, objetif dan bisa memenuhi kaidah-kaidan keilmuan atau science, dan lalu dengan mudahnya akan bisa diputar menjadi suatu perusakan nama baik, fitnah, dll dll dan membuat yang memberikan penilaian itu malah menjadi tertuduh atau pesakitan, dan kemudian timbullah amarah, benci dll, yang malah akan merusak keharmonisan batin si penekun spiritual ini, dan tentunya bisa saja malah menurunkan derajat spiritualnya.</p>
<p>Salah seorang guru  atau master terkenal, pernah mengajurkan agar kita tidak gandrung atau senang untuk meracuni pikiran, batin kita dengan pemikiran-pemikiran akan orang lain, ya, kalaupun kita memberikan penilaian, sebaiknya disimpan saja di tempat yang tidak dijangkau orang dengan rapi dan akan lebih baik kalau tidak kita lakukan upaya penialan-peniaian itu, namun semata-mata memusatkan perhatian kita pada pelatihan diri kita dan penjagaan perilaku kita sendiri, menjaga pintu-pintu batin kita dan mencegah agar sampah-sampah spiritual tidak sampai masuk dan mengotori batin kita melalui pintu-pintu itu tadi, dan tentunya tidak terlalu mengikuti arus emosi, perasaan dan pemikiran-pemikiran negatif kita sebagai bagian dari urutan proses penilaian itu tadi.</p>
<p>Secara sederhana, mungkin bisa dikatakan bahwa kita mesti bisa mengijinkan orang lain itu untuk belajar dari kesalahannya sendiri, belajar dari pengalamannya sendiri agar lalu dia bisa memahami, bukan sekedar mengerti.</p>
<p><em><strong>Seperti kata orang bijak, datang dan alamilah, ya datang lah dalam hidup ini dan alamilah, petiklah makna kehidupan yang kamu jalani dan pahamilah dengan baik agar bisa melihat esensi sesungguhnya dari kehidupan ini&#8230; dengan pengalaman nyata. </strong></em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.scbatam.com/dont-judge-a-book-from-its-cover/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
	</channel>
</rss>
